Sabtu, 29 Oktober 2016

Silmi/NHW#2 Matrikulasi Batch 2 IIP Bandung

Bismillahirrahmanirrahiim.
Kali ini tugas NHW2 agak sulit untuk saya pribadi yang belum menikah. Namun setidaknya tugas ini memberikan gambaran lebih jauh lagi dalam menentukan tujuan keluarga yang akan dibangun. Secara keseluruhan saya memberi nama konsep keluarga ini sebagai keluarga yang "kaffah" terutama dalam hal menerapkan prinsip Islam dengan kecintaan yang tulus didalamnya. Tentunya sebuah target ada baiknya lebih spesifik, terukur, bisa diraih, realistik dan berjangka. Maka kali ini saya berusaha untuk memecah konsep "kaffah" yang masih bersifat general di benak saya.

Sebagai Individu, saya memiliki target yang cenderung untuk dijadikan "habit" dimana sukses atau tidaknya dilihat dari frekuensi per minggu (maksimal miss 3x).
1. Membiasakan bangun dua jam sebelum shubuh, dan melakukan rangkaian kegiatan "me-Rabb time".
2. Mentargetkan rampung hafalan 1 halaman baru setiap subuh.
3. Melengkapi sunnah Rawatib & Dhuha dalam sehari.
4. Melakukan olah raga (sambil melantunkan Al-Matsurat) setelah subuh sampai muncul matahari.
5. Berbenah diri dan rumah, serta menyiapkan sarapan maksimal jam 07.00 pagi.
6. Membiasakan shaum sunnah senin kamis.
7. Membiasakan sedekah dimanapun pada mustahiq, menyiapkan kencleng sebagai penampung jika dalam sehari tidak menemukan mustahiq.
8. Rutin tadarus+tadabbur tafsir Ibnu Katsir 1 Halaman setiap ba'da maghrib.
9. Mengisi waktu luang dengan buku bacaan Islam dan pengobatan.
10. Meluruskan niat disetiap aktivitas (dengan do'a), dawam wudhu & dzikir.

Sebagai Istri (belum), bagi saya ada target yang bersifat manajerial dan ada target yang bersifat penyempurnaan akhlaq.
1. Target Manajerial:
     a. Sebagai "Koki"
         -Menentukan jadwal menu: Senin & Kamis shaum (menu saur/buka menyesuaikan  
          keinginan suami/anak), Selasa & Jum'at menu sunnah (menyesuaikan pola menu
          makan rasulullah saw), Rabu menu "hijau", Sabtu & Minggu (menu kreasi bersama
          pasangan/anak).
         -Memperhatikan pola/jam makan suami & anak.
         -Menyiapkan bekal makan & minum jika perlu.
         -Memperhatikan nilai gizi makanan (berat dan ringan seperti buah).
      b. Sebagai Bendahara/ Pengelola Keuangan
         -Mengutamakan 2 pos utama yang sering terlupa sebelum terpakai: 10% sedekah,
          10-20% menabung.
         -Membagi pos kebutuhan menggunakan amplop yang terbagi untuk: Keperluan
          Rumah Tangga, Uang saku suami, Uang saku istri, Uang saku anak, Uang pendidikan
          (pendidikan formal untuk anak dan buku tambahan).
         -Menentukan skala prioritas penggunaan dana RT (pangan, papan, listrik,
          pulsa/kuota sebagai sumber informasi & komunikasi, kebersihan)
         -Menghindari "boros & sia2", selalu menggunakan nalar (bukan nafsu) saat membeli
          sesuatu.
       c. Sebagai "Pelayan"
          -Selalu memohon dipeliharakan cinta oleh Allah (manajerial cinta), dengan
           mengutamakan ridho Allah diatas apapun (juga dengan meraih ridho suami).
          -Menahan diri untuk keluar rumah selama bukan hal yang darurat.
          -Mengatur waktu sedemikian rupa agar semua pekerjaan RT selesai sebelum suami
           pulang dan menyiapkan waktu 15-20 menit untuk "menyambut" kedatangannya
           bersama dengan anak2 yang sudah rapi (membiasakan anak untuk ta'dzim sekaligus
           akrab pada ayahnya).
          -Tidak melepaskan perhatian lebih saat suami baru pulang dan baru bangun
           (menyiapkan hal yang dia sukai).
          -Mengatur kondisi hati terbaik/positif saat suami di rumah.
          -Mengatur waktu untuk menolong keuangan dengan kerja part time atau bisnis yang
           bisa dikerjakan). 
          -Pandai berdandan dan "mendandani" dengan belajar memotong/memangkas
           rambut.
2. Penyempurnaan Akhlaq
    Mengusahakan untuk istiqamah dengan sifat qanaah, taat, melindungi diri dari
    tangkapan pandangan serta pendengaran suami dengan berbuat yang tidak ia sukai
    (buruk), memperhatikan pola waktu makan & tidur suami (inisiatif), menjaga hubungan
    dengan keluarga suami, tidak melanggar/mempertanyakan perintah suami, memiliki
    wajah ceria, sedekah dengan izin suami, berbagi dengan tetangga (jalin
    silaturahmi), dan membiasakan kata "maaf" dan "terimakasih" (untuk menjamin ridho
    suami sebelum tidur).

Sebagai IBU, selain yang telah disebutkan di atas (pelayanan keluarga) yaitu sebagai pendidik. Saya menyusunnya dalam rangkaian tema per hari (Practice base) untuk mempermudah "focus point" sebagai berikut:

Minggu: Hari Kreativitas, dengan beragam crafting bermanfaat dan menghibur.
Senin  : Hari Bijak, dengan cerita2 teladan.
Selasa : Hari Santun/Akhlaq, dengan mendampingi anak berlatih bersilaturahmi.
Rabu   : Hari Pintar, dengan melatih unsur logika & pengetahuan.
Kamis  : Hari Internasional, dengan melatih penggunaan bahasa global (memudahkan
             dalam menggali ilmu yang lebih luas dan dalam)
Jum'at : Hari Qur'an, dengan melatih hikmah Qur'an serta unsur2 yang mempercantik 
             keberadaan Al-Qur'an (mengajarkan tahsin & tilawah misalnya).
Sabtu   : Hari Hobi, opsional untuk kegiatan pribadi masing2 atau bersama2 (kalau
             hobinya kebetulan sama).

Meski begitu bukan berarti tidak diajarkan di hari lain, hanya berbeda penekanan.Tema tersebut untuk memudahkan penekanan makna bagi orangtua dan anak sehingga mudah dipahami. Unsur ilmu wajib seperti fiqih dan tauhid tentunya harus ditanamkan setiap hari.

Saya paham apa yang saya tuliskan ini sangat membutuhkan keseriusan dan pertolongan Allah dalam pelaksanaannya. Setidaknya dengan tugas NHW#2 ini, saya menjadi sadar dan paham indikator habit dalam membentuk keluarga "kaffah" dan tentunya sakinah mawaddah. Semoga Allah menolong semua rencana dan target kita, baik yang sudah atau belum berkeluarga (seperti saya).
:)



Jumat, 21 Oktober 2016

Silmi/NHW#1 Matrikulasi Batch 2 IIP Bandung

Bagi seorang pelajar tentu ilmu dan segala perangkatnya menjadi hal terpenting dalam kesehariannya. Perangkat ilmu diantaranya guru, buku, alat tulis, artikel, "mbah google" dan tentunya teman seperguruan. Semua perangkat ilmu memiliki porsi tersendiri untuk diberikan penghargaan atas keterkaitannya dengan ilmu yang kita perjuangkan. Keutamaan ilmu sendiri, karena ia ibarat mahkota penghias bagi pemiliknya yang tentunya harus menghubungkan ikatan kemuliaan tersebut pada Sang Maha Berilmu. Maka dalam Islam terdapat beberapa adab berilmu yang kemudian diadaptasi dengan era globalisasi saat ini.

Pertama dan yang paling utama adalah unsur intrinsik diri kita sendiri, dimana kita sebagai pelajar harus menyiapkan ruang yang luas dalam "ruang penyimpanan" hati dan otak.

a. Ikhlas dan MAU
Membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk. Bagaimanapun informasi yang hendak kita dapatkan jika ia bernilai baik maka hati yang menerima juga harus baik. Karena hati yang baik akan mengundang ilmu dan pemahaman baru yang lebih baik ke dalam diri kita. Setiap ilmu yang bermanfaat ialah cahaya, yang menghapuskan kegelapan jiwa.

b. Bersegera dan Penuh Antusias
Kita perlu menyediakan waktu khusus dalam berilmu. Mengawali hal baik dengan sikap yang baik dengan datang di awal waktu dan duduk paling depan. Adab yang satu ini meningkatkan tingkat ketahanan kita saat mengalami hambatan dalam proses pencarian ilmu. Sehingga menunjukan sikap gigih di setiap majelis ilmu baik online maupun offline manjadi penting.

c.Mengosongkan "Gelas" yang Sudah Terisi
Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu
ilmu sedang disampaikan. Sikap ini salah satu bagian pembatas dalam otak kita. Sel-sel neuron dalam otak perlu membuat hubungan baru saat menerima informasi baru. Terkadang hubungan itu berangsur kendor bahkan lepas satu sama lain. Saat merasa bisa, hubungan yang dibentuk oleh sel-sel ini akan terhambat. Terkadang seseorang yang justru banyak menerima ilmu, akan merasa jauh lebih membutuhkan ilmu. Ibarat orang yang penuh dengan rasa haus namun tidak memiliki air.

d.Tau>Paham>Lakukan>Biasakan>Ajarkan
Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang,
membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua
runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama. Karena ilmu yang kita terima tidak akan mencapai 100% jika masih ada tahap yang belum tercapai.

e. Sungguh-sungguh dalam Berlatih Memanfaatkan Tugas
Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu
disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar
mudah untuk diamalkan.

ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)
a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati,
menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha
Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.

b. Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau
menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan
memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru
berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru
mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu
mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.

c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang
disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta
ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh
disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan
kita.

Dari apa yang saya pelajari di kelas Matrikulasi IIP #2 kali ini, pembelajaran adalah proses berantai yang membutuhkan rangkaian rantai yang kokoh. Siapa yang menyampaikan, bagaimana isinya, dan bagaimana menimbulkan kesan pada penerima informasi menjadi unsur yang penting untuk berada dalam jangkauan pertanggung jawaban kita.

Ilmu yang menjadi spesifikasi saya kelak untuk diperdalam ialah pendidikan keluarga yang berusaha untuk kaffah dalam islam, termasuk dalam penerapan unsur kesehatan. Karena setiap ilmu yang kita pelajari akan dimintai pertanggungjawaban. Waktu, Ilmu dan Fisik yang sehat menjadi bagian dari unsur kekokohan keluarga muslim yang memperhatikan amanah diri sebagai "khalifah" di atas bumi.