Tugas NHW #6
3 aktivitas penting:
Belajar-Mengajar
Membantu Ortu
Kegiatan dakwah
3 aktivitas tidak penting:
Gadgeting
Nonton drakor
Bincang2 lebih dari 1jam
Habis untuk gadgeting 😌
18.00: Sholat, ngaji 1halaman, bahas tafsir
19.00: Sholat, ngobrol, baca buku(siap2 tidur)
20.30: Tidur
02.00: Bangun, dzikir, tahajud
03.00: Hafalan Qur'an
04.00: Sholat.
04.15: Coffee & book time.
04.45: Walking+Al Matsurat time.
05.15: Kerjaan domestik(Kamar, Kamar Mandi, Ruang Keluarga&Dapur)
05.45: Mandi
06.30: Profession time
16.00: Mandi, chat time
16.30: Gadget time
17.30: Makan
Belajar Mengajar: 4jam
Book time: 1jam 30menit
Olahraga: 30menit
Target time: 1jam
Qur'an time: 1jam 30menit
Chat time: 30-60 menit
Sabtu, 26 November 2016
Jumat, 18 November 2016
Silmi/NHW#5 Matrikulasi Batch 2 IIP Bandung
Bismillahirrahmaanirrahiim
Berbicara soal pendidikan ada sebuah desain yang harus dirampungkan. Pada tugas kali ini, saya akan memaparkan "Belajar Cara Belajar" ala pribadi berdasarkan pengalaman dan buku yang saya baca (rujukan: Ta'lim Muta'lim). Dari semua rancangan yang paling utama ialah meluruskan niat untuk belajar, semoga Allah arahkan hati kita untuk selalu "lillah". Menghadirkan rasa cinta pada ilmu tersebut, menunjukan minat dan berbaik sangka dalam berusaha memahami ilmu tersebut. Minat bisa dimunculkan dengan pertanyaan 5W+1H (why, how, what, when, where, who).
Poin Kognitif
Karena sebagian besar rancangan belajar ini mencakup nilai kognitif dan praktis, maka hal yang pertama saya perhatikan adalah menghafalkan/ mengingat ilmu yang sudah dipelajari. Hal-hal yang dapat memperkuat hafalan yang dituturkan dalam buku Ta'lim Muta'lim karya Asy-Syeikh Az-Zarnuji diantaranya: rajin belajar secara berulang, mengurangi makan (sesuai sunnah rasul saw, makan setelah lapar berhenti sebelum kenyang), menjauhi barang syubhat/ wara', shalat malam dan membaca Al-Qur'an. Adapun hal yang merusak hafalan: banyak berbuat maksiat, suuzhon, menghawatirkan soal harta dan terlalu banyak bekerja.
Selanjutnya mengurutkan pengetahuan yang ingin dipelajari dari yang mudah ke yang sulit. Namun saya pribadi memandang mudah tidaknya sebuah ilmu tergantung pada minat dan kebutuhan di saat tersebut. Seperti saat ini, saya sedang memprioritaskan ilmu parenting karena sedang difasilitasi untuk mempelajarinya dan diberikan ruang untuk menguji pemahaman pribadi melalui tugas ini. Dampak positifnya saya dapat lebih mudah paham tentang tema tersebut. Di sisi lain dampak negatifnya ketika kehilangan stimulus (mood), saya cenderung beralih ke tema lain. Maka solusi yang saya bisa pikirkan dan sudah saya lakukan adalah membatasi keinginan membaca buku yang tidak berkaitan dengan tema parenting yang sedang saya konsep untuk sementara waktu sampai tuntas mempelajari satu tema. Meski pekan depan ada niat untuk mempelajari ilmu Thibbun Nabawi, ini bagian dari rancangan pembelajaran yang sudah saya cantumkan di tugas NHW sebelumnya.
Setelah itu menentukan mentor/ guru dalam proses pembelajarannya. Alhamdulillah, insyaAllah sudah ada figur yang bisa saya jadikan guru meski secara virtual dan tidak berkomunikasi secara langsung seperti dalam program IIP ini.
Media pembelajaran yang paling efektif untuk saya pribadi adalah video. Kalaupun dengan media buku, akan lebih efektif jika saya menyampaikan ulang secara verbal atau nonverbal.
Poin Praktis
Untuk ilmu parenting sendiri, alhamdulillah saya berkesempatan menjadi guru pengganti cuti yang menangani anak TK, SD dan SMP. Sehingga bisa diaplikasikan dalam ruang belajar. Tentunya, masih sangat sedikit yang saya aplikasikan. Jam terbang sangat memegang kendali dalam pemahaman poin praktis.
Adapun cara belajar anak, menyusul sesuai kebutuhan ilmunya insya Allah.
Sabtu, 12 November 2016
Silmi/NHW#4 Matrikulasi Batch 2 IIP Bandung
Kali ini NHW#4 adalah momen penentuan kilometer 0 yang menentukan langkah-langkah kecil yang akan diambil. Tujuan keluarga bagi saya masih dalam tema yang sama, "kaffah family" yang prinsipnya memelihara keseimbangan. Berbicara pola didik menurut fitrah anak, pada dasarnya manusia dilahirkan sebagai makhluk yang merdeka yang dalam bahasa Qur'an nya ialah "khalifah". Jika ia bisa memiliki tanggungjawab kepemimpinan bagi kehidupannya, peran ibu sebagai pendidik yaitu memfasilitasi dan mengarahkan. Adapun yang bersifat disipliner, bukan memaksakan namun lebih bersifat membangun kesadaran anak akan pentingnya nilai yang dijadikan disiplin.
1. Maka yang pertama ditanamkan pada anak-anak ialah Keimanan. Setelah nilai tauhidnya kukuh, cinta mulai ditanamkan pada hatinya yang masih suci dan mudah mencintai sesuatu yang menarik hatinya. Sehingga ke depannya saat menanamkan "peraturan", mereka sadar untuk apa & kepada siapa mereka taat.
2. Setelah itu baru menanamkan Adab. Saya lebih suka membahasakan anak-anak menukar kebebasannya untuk meraih kebebasan lain. Dengan tegaknya sebuah adab dalam hati mereka, banyak jalan ilmu yang terbuka. Ibarat aliran air, ilmu akan mengalir dari dataran tinggi ke dataran rendah. Maka penting menanamkan adab (terutama dalam berilmu) untuk memberi ruang sifat "rendah hati" terhadap ilmu.
3. Poin selanjutnya baru membicarakan Ilmu dan Amal yang dikemas dalam ilmu fiqih sebagai landasan pertama, sebelum ilmu-ilmu lainnya. Disini saya ingin memacu anak2 untuk terbiasa tau-paham-lakukan-sebarkan, agar pemahaman mereka bisa paripurna.
Saatnya membiarkan mereka memilih ilmu dunia yang mereka senangi, maka peran saya hanya mengarahkan dan memotivasi. Mengingat anak2 adalah makhluk merdeka yang memiliki pemikiran cerdas, dan merupakan khalifah yang akan mempertanggung jawabkan apa yang dia pilih. (Pilih, nikmati, pertanggungjawabkan)
Adapun saya tetap dengan "ilmu dunia" pilihan saya yaitu Kesehatan dan Pengobatan, yang mengkombinasikan latar ilmu farmasi yang saya pernah pelajari dengan pengobatan cara rasul saw. Meski dalam pendalamannya melalui ceklis harian belum saya maksimalkan (berdasarkan penilaian pribadi baru sekitar 60%).
Misi Hidup : Live and Move for Allah's Blesses
Bidang : Pendidikan ruhani & kesehatan
Peran : Pendidik & praktisi
Ilmu-ilmu yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup saya:
1. Thibbun Nabawi & Herbalis : Ilmu-ilmu seputar kesehatan & pengobatan berdasarkan sunnah rasul saw.
2. Kurikulum dan parenting Rasul saw : Ilmu-ilmu seputar pendidikan yang ditanamkan (sementara ini rujukan saya kurikulum Kutab)
Milestone untuk memandu setiap perjalanan menjalankan Misi Hidup
KM 0 – KM 1 ( tahun 1 ) : Menguasai Ilmu seputar Thibbun Nabawi & Herbalis
KM 1 – KM 2 (tahun 2 ) : Menguasai Ilmu seputar Kurikulum IIP
KM 2 – KM 3 (tahun 3 ) : Menguasai Ilmu seputar Parenting Rasulullah saw
KM 3 – KM 4 ( tahun 4) : Menguasai Ilmu seputar Kurikulum pendidikan Rasul saw
Kamis, 03 November 2016
Silmi/NHW#3 Matrikulasi Batch 2 IIP Bandung
Bismillahirrahmaanirrahiim.Beberapa tugas NHW#3 ini mungkin agak ber-"baper" ria mengingat empat poin ini cukup menuntut suara hati. Langsung saja ke tugasnya yaa:
1. Suara hati bertema "Untukmu Calon Imamku"
(Ditulis 9 Agustus 2016, diedit 4 November 2016)
Ada banyak kata yang ingin kusampaikan,
Assalamu'alaikum, calon imamku ^^
Sapaku hari ini, di Jumat yang penuh berkah.
Kelak saat kita saling memilih untuk memiliki,
dan aku pun sanggup menyapamu dengan sebutan agung:
"hai suamiku, imamku.."
Pahlawan yg meneruskan amanah abati.
Tolong, besarkan hatimu untuk menerima segala kekuranganku..
Jika seorang suami harus bersabar atas istrinya paling tidak 70kali dalam sehari,
Maka aku bertekad lebih berbesar hati menerima kekuranganmu.
InsyaAllah
Aku mengerti..
Beratnya saat istri dan anak2 bahkan bisa menjadi fitnah untukmu..
Aku paham mengapa Rasul saw akan menyuruh istri sujud pada suami, jika manusia diperbolehkan sujud pada manusia.
Tak selepas saat sendiri, tak sebebas melajang..
Aku paham, jiwamu menukar kebebasan.
Dan itu semua membuatku ingin berkata...
Terimakasih telah menjadi bagian dalam hidupku.
Bagian dari mozaik cinta yang akan menyempurnakan agamaku, juga agamamu.
Aku-dirimu tak sempurna..
Namun bagiku itu cukup.
Karena ketidak sempurnaan membuat kita saling menyempurnakan.
Hari ini saat kita masih terpisah ruang dan waktu,
Teruslah berusaha saling menyempurnakan diri..
Kelak kita akan bertemu, insyaAllah.
Dalam keagungan cinta yang terus bernafas dengan Ikhlas,
memeluk kesempurnaan skenario yg Allah cipta.
Pada skenarionya, ada ketidak-sederhanaan dalam kesederhanaan..
Dan senyum syukur selalu memberi gemerlap dalam gulita.
Jika akad telah terucap,
Arasy pun bergetar karna keagungannya.
Pengabdianku, kelak beralih padamu calon imamku.
Maka pada saatnya izinkan aku mencintaimu.
Bantu aku, taklukan egoku.
Meraih bahagiamu,
Menelisik hatimu,
Menyimpan sebongkah cinta yang berharga.
Tersenyumlah, Berbahagialah..
Ada visi yang kita kejar bersama dalam bahagia..
Ridla Allah dan Rasulullah saw.
Bahagiamu, insyaAllah cukup untuk membuatku tersenyum.
Karena ridla Allah yang kucari..
Sehingga dengan ridlamu, Allah kan ridla.
Calon Sahabat hidupku..
Pengabdian istri harus sepenuh jiwa dan raga,
Aku paham..
Butuh telaga cinta untuk selalu mendampingimu..
Maka kucari telaga itu pada Rabb-ku dan Rabb-mu.
Aku harus mencintai, juga harus belajar.
Belajar caramu belajar, caramu bicara, caramu menggerutu, caramu bersyukur.
Dan aku memilih untuk terus belajar mencintaimu..
Karena Allah yang kita cinta, kelak meminta kita untuk saling mencinta.. Memberi makna, menuai arti, mencari ilmu, meraih jannah.. Bersama.
2. Potensi diri
Potensiku bukan milikku, ia milik Allah. Aku ingin ridho Allah menyertai hidupku, apapun jalannya insyaAllah. Jika hal2 yang kusuka bisa menjelaskan potensi.. aku suka bertukar pikiran ttg ilmu agama, suka lingkungan dakwah, dan suka Al Qur'an. Singkatnya suka berproses/belajar untuk meraih potensi.
3. Kenapa aku di keluarga ini?
Umi abi termasuk yg agamis, alhamdulillah.
Senang mencontohkan yg baik daripada menasehati
Senang diskusi
Diplomatis
Jujur dan rendah hati
Suka bersosialisasi
Banyak unsur akhlaq yg dicontohkan
*Semua ini membuatku ingin menjadi tombak peradaban dengan menjadi pendidik yang baik.
1. Suara hati bertema "Untukmu Calon Imamku"
(Ditulis 9 Agustus 2016, diedit 4 November 2016)
Ada banyak kata yang ingin kusampaikan,
Assalamu'alaikum, calon imamku ^^
Sapaku hari ini, di Jumat yang penuh berkah.
Kelak saat kita saling memilih untuk memiliki,
dan aku pun sanggup menyapamu dengan sebutan agung:
"hai suamiku, imamku.."
Pahlawan yg meneruskan amanah abati.
Tolong, besarkan hatimu untuk menerima segala kekuranganku..
Jika seorang suami harus bersabar atas istrinya paling tidak 70kali dalam sehari,
Maka aku bertekad lebih berbesar hati menerima kekuranganmu.
InsyaAllah
Aku mengerti..
Beratnya saat istri dan anak2 bahkan bisa menjadi fitnah untukmu..
Aku paham mengapa Rasul saw akan menyuruh istri sujud pada suami, jika manusia diperbolehkan sujud pada manusia.
Tak selepas saat sendiri, tak sebebas melajang..
Aku paham, jiwamu menukar kebebasan.
Dan itu semua membuatku ingin berkata...
Terimakasih telah menjadi bagian dalam hidupku.
Bagian dari mozaik cinta yang akan menyempurnakan agamaku, juga agamamu.
Aku-dirimu tak sempurna..
Namun bagiku itu cukup.
Karena ketidak sempurnaan membuat kita saling menyempurnakan.
Hari ini saat kita masih terpisah ruang dan waktu,
Teruslah berusaha saling menyempurnakan diri..
Kelak kita akan bertemu, insyaAllah.
Dalam keagungan cinta yang terus bernafas dengan Ikhlas,
memeluk kesempurnaan skenario yg Allah cipta.
Pada skenarionya, ada ketidak-sederhanaan dalam kesederhanaan..
Dan senyum syukur selalu memberi gemerlap dalam gulita.
Jika akad telah terucap,
Arasy pun bergetar karna keagungannya.
Pengabdianku, kelak beralih padamu calon imamku.
Maka pada saatnya izinkan aku mencintaimu.
Bantu aku, taklukan egoku.
Meraih bahagiamu,
Menelisik hatimu,
Menyimpan sebongkah cinta yang berharga.
Tersenyumlah, Berbahagialah..
Ada visi yang kita kejar bersama dalam bahagia..
Ridla Allah dan Rasulullah saw.
Bahagiamu, insyaAllah cukup untuk membuatku tersenyum.
Karena ridla Allah yang kucari..
Sehingga dengan ridlamu, Allah kan ridla.
Calon Sahabat hidupku..
Pengabdian istri harus sepenuh jiwa dan raga,
Aku paham..
Butuh telaga cinta untuk selalu mendampingimu..
Maka kucari telaga itu pada Rabb-ku dan Rabb-mu.
Aku harus mencintai, juga harus belajar.
Belajar caramu belajar, caramu bicara, caramu menggerutu, caramu bersyukur.
Dan aku memilih untuk terus belajar mencintaimu..
Karena Allah yang kita cinta, kelak meminta kita untuk saling mencinta.. Memberi makna, menuai arti, mencari ilmu, meraih jannah.. Bersama.
2. Potensi diri
Potensiku bukan milikku, ia milik Allah. Aku ingin ridho Allah menyertai hidupku, apapun jalannya insyaAllah. Jika hal2 yang kusuka bisa menjelaskan potensi.. aku suka bertukar pikiran ttg ilmu agama, suka lingkungan dakwah, dan suka Al Qur'an. Singkatnya suka berproses/belajar untuk meraih potensi.
3. Kenapa aku di keluarga ini?
Umi abi termasuk yg agamis, alhamdulillah.
Senang mencontohkan yg baik daripada menasehati
Senang diskusi
Diplomatis
Jujur dan rendah hati
Suka bersosialisasi
Banyak unsur akhlaq yg dicontohkan
*Semua ini membuatku ingin menjadi tombak peradaban dengan menjadi pendidik yang baik.
4. Lingkungan dan tantangan..
Tantanganku adalah untuk mengusahakan konsep "kaffah" dalam semua unsur kehidupan.
Tantanganku adalah untuk mengusahakan konsep "kaffah" dalam semua unsur kehidupan.
Langganan:
Komentar (Atom)