Jumat, 30 Desember 2016

Thibbun Nabawi (Prophetic Medical)

Bismillahirrahmaanirrahiim.

After finished my bachelor degree of pharmaceutical (especially on cancerous drugs research), I realize that no perfect drug in this world. Our research in pharmaceutical keep growing every single day, but there's something missing for me as a Muslim.

In Tawheed part, to be health is not only about "the drug".
There's Allah's decision to create health for us.
So, Health=Allah's will.

"Help yourself with patience and pray." ( Al-Baqarah:45)

Allah is the Most Perfect one.
Patience and Sholah are two keys those open the merciful of Allah will.
If Allah like the way we ask his mercy, in sya Allah we will health.


It's really important to take Rasulullah PBUH's way to keep health physic (He only sick for twice in his life), so here I am to explain you all about thibbun nabawi in sya Allah.

Globally, thibbun nabawi has 3 part:
Ruqyah
Cupping Therapy
Herbalist

Ruqyah

Aisyah radiallahu ‘anha said;

Cupping Therapy/ Hijamah

Next, I will explain all about herbalistik in sya Allah.

Senin, 19 Desember 2016

Silmi/NHW#9 Matrikulasi Batch 2 IIP Bandung

Minat/Hobi: Berhubungan dengan pendidikan, masyarakat, Al-Qur'an dan kesehatan

Skill Hard/Soft:
Hard; Bidang kuliah farmasi, berlingkungan kerja bidang pelatihan public speaking, mampu mengajarkan tahsin secara formal.
Soft; Senang berhubungan dengan banyak orang

Isu Sosial:
Banyak penyalah-gunaan obat yang beredar, karena kandungan obat yang cenderung bersifat "racun". Sehingga saya rasa penting untuk mengembalikan solusi dunia kesehatan pada sunnah rasul saw.

Masyarakat:
Seluruh kalangan

Ide Sosial:
Melestarikan pola hidup halal&thoyyib, berbasis Tauhid.

Sabtu, 10 Desember 2016

Silmi/NHW#8 Matrikulasi Batch 2 IIP Bandung

Aktivitas yang disukai menjadi pelajar dan pendidik yang menyenangkan di universitas kehidupan, terutama mendalami dunia kesehatan.
1. Kita ingin menjadi apa ? (BE)
Saya ingin menjadi herbalis, therapist thibbun nabawi, dan pendidik yang profesional

2. Kita ingin melakukan apa ? (DO)
Saya ingin melakukan Learning by Doing untuk kegiatan yang berhubungan dengan tujuan saya diatas.

3. Kita ingin memiliki apa? (HAVE)
Saya ingin memiliki skill yang bermanfaat bagi umat.

Perhatikan 3 aspek dimensi waktu di bawah ini dan isilah:
1. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)
-Memiliki klinik bekam&ruqyah di rumah sehingga bisa berkarya tapi tetap terpantau perkembangan anak
-Memiliki keluarga yg teguh berprinsip dalam Islam, dan menjadikan syariat nya sebagai acuan hidup
-Mendidik jundi2 agama, dan membangun dinasti shahibul qur'an
2.Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan ( strategic plan)
-Mambuka Praktek Klinik
3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun ( new year resolution)
-Hafalan quran
-Menikah

Jumat, 02 Desember 2016

Silmi/NHW#7 Matrikulasi Batch 2 IIP Bandung

1. CAR - CARETAKER 
2. EDU - EDUCATOR 
3. EVA - EVALUATOR 
4. MOT - MOTIVATOR 
5. SYN - SYNTHESIZER
networking 60%
servicing 20%
reasoning 20%
generating idea 20%

Dari hasil tes via temubakat.com, saya menyadari selama ini saya terbentuk dalam lingkungan pendidikan. Baik pendidikan karakter, skill tertentu maupun pendidikan formal yang cenderung teramat scientist (farmasi dengan fokus kimia medisinal). Sebagai implementasi minat caretaker, educator dan motivator, saya merasa cocok dengan bidang pendidikan. Sebagai pendidik saya juga harus memiliki kemampuan evaluator dan synthesizer agar terdapat pembangunan individu yang maksimal.
Kuadran 1 : Aktivitas yang saya SUKA dan BISA, yaitu bertemu orang lain dalam rangka bertukar pikiran/ilmu/barang/uang.
Kuadran 2 : Aktivitas yang saya SUKA tetapi TIDAK BISA, berjualan/mengajar dengan sistem yang ketat
Kuadran 3 : Aktivitas yang saya TIDAK SUKA tetapi BISA, bekerja di ranah rumah sakit/ pabrik obat
Kuadran 4: Aktivitas yang saya TIDAK SUKA dan TIDAK BISA, bidang manajerial yang ketat, konsisten dan detail seperti akutansi.

Sabtu, 26 November 2016

Silmi/NHW#6 Matrikulasi Batch 2 IIP Bandung

Tugas NHW #6

3 aktivitas penting:
Belajar-Mengajar
Membantu Ortu
Kegiatan dakwah


3 aktivitas tidak penting:
Gadgeting
Nonton drakor
Bincang2 lebih dari 1jam

Habis untuk gadgeting 😌


18.00: Sholat, ngaji 1halaman, bahas tafsir
19.00: Sholat, ngobrol, baca buku(siap2 tidur)
20.30: Tidur
02.00: Bangun, dzikir, tahajud
03.00: Hafalan Qur'an
04.00: Sholat.
04.15: Coffee & book time.
04.45: Walking+Al Matsurat time.
05.15: Kerjaan domestik(Kamar, Kamar Mandi, Ruang Keluarga&Dapur)
05.45: Mandi
06.30: Profession time
16.00: Mandi, chat time
16.30: Gadget time
17.30: Makan

Belajar Mengajar: 4jam
Book time: 1jam 30menit
Olahraga: 30menit
Target time: 1jam
Qur'an time: 1jam 30menit
Chat time: 30-60 menit

Jumat, 18 November 2016

Silmi/NHW#5 Matrikulasi Batch 2 IIP Bandung

Bismillahirrahmaanirrahiim

Berbicara soal pendidikan ada sebuah desain yang harus dirampungkan. Pada tugas kali ini, saya akan memaparkan "Belajar Cara Belajar" ala pribadi berdasarkan pengalaman dan buku yang saya baca (rujukan: Ta'lim Muta'lim). Dari semua rancangan yang paling utama ialah meluruskan niat untuk belajar, semoga Allah arahkan hati kita untuk selalu "lillah". Menghadirkan rasa cinta pada ilmu tersebut, menunjukan minat dan berbaik sangka dalam berusaha memahami ilmu tersebut. Minat bisa dimunculkan dengan pertanyaan 5W+1H (why, how, what, when, where, who).

Poin Kognitif
Karena sebagian besar rancangan belajar ini mencakup nilai kognitif dan praktis, maka hal yang pertama saya perhatikan adalah menghafalkan/ mengingat ilmu yang sudah dipelajari. Hal-hal yang dapat memperkuat hafalan yang dituturkan dalam buku Ta'lim Muta'lim karya Asy-Syeikh Az-Zarnuji diantaranya: rajin belajar secara berulang, mengurangi makan (sesuai sunnah rasul saw, makan setelah lapar berhenti sebelum kenyang), menjauhi barang syubhat/ wara', shalat malam dan membaca Al-Qur'an. Adapun hal yang merusak hafalan: banyak berbuat maksiat, suuzhon, menghawatirkan soal harta dan terlalu banyak bekerja.

Selanjutnya mengurutkan pengetahuan yang ingin dipelajari dari yang mudah ke yang sulit. Namun saya pribadi memandang mudah tidaknya sebuah ilmu tergantung pada minat dan kebutuhan di saat tersebut. Seperti saat ini, saya sedang memprioritaskan ilmu parenting karena sedang difasilitasi untuk mempelajarinya dan diberikan ruang untuk menguji pemahaman pribadi melalui tugas ini. Dampak positifnya saya dapat lebih mudah paham tentang tema tersebut. Di sisi lain dampak negatifnya ketika kehilangan stimulus (mood), saya cenderung beralih ke tema lain. Maka solusi yang saya bisa pikirkan dan sudah saya lakukan adalah membatasi keinginan membaca buku yang tidak berkaitan dengan tema parenting yang sedang saya konsep untuk sementara waktu sampai tuntas mempelajari satu tema. Meski pekan depan ada niat untuk mempelajari ilmu Thibbun Nabawi, ini bagian dari rancangan pembelajaran yang sudah saya cantumkan di tugas NHW sebelumnya.

Setelah itu menentukan mentor/ guru dalam proses pembelajarannya. Alhamdulillah, insyaAllah sudah ada figur yang bisa saya jadikan guru meski secara virtual dan tidak berkomunikasi secara langsung seperti dalam program IIP ini.

Media pembelajaran yang paling efektif untuk saya pribadi adalah video. Kalaupun dengan media buku, akan lebih efektif jika saya menyampaikan ulang secara verbal atau nonverbal.

Poin Praktis
Untuk ilmu parenting sendiri, alhamdulillah saya berkesempatan menjadi guru pengganti cuti yang menangani anak TK, SD dan SMP. Sehingga bisa diaplikasikan dalam ruang belajar. Tentunya, masih sangat sedikit yang saya aplikasikan. Jam terbang sangat memegang kendali dalam pemahaman poin praktis.

Adapun cara belajar anak, menyusul sesuai kebutuhan ilmunya insya Allah.









  





Sabtu, 12 November 2016

Silmi/NHW#4 Matrikulasi Batch 2 IIP Bandung

Kali ini NHW#4  adalah momen penentuan kilometer 0 yang menentukan langkah-langkah kecil yang akan diambil. Tujuan keluarga bagi saya masih dalam tema yang sama, "kaffah family" yang prinsipnya memelihara keseimbangan. Berbicara pola didik menurut fitrah anak, pada dasarnya manusia dilahirkan sebagai makhluk yang merdeka yang dalam bahasa Qur'an nya ialah "khalifah". Jika ia bisa memiliki tanggungjawab kepemimpinan bagi kehidupannya, peran ibu sebagai pendidik yaitu memfasilitasi dan mengarahkan. Adapun yang bersifat disipliner, bukan memaksakan namun lebih bersifat membangun kesadaran anak akan pentingnya nilai yang dijadikan disiplin. 
1. Maka yang pertama ditanamkan pada anak-anak ialah Keimanan. Setelah nilai tauhidnya kukuh, cinta mulai ditanamkan pada hatinya yang masih suci dan mudah mencintai sesuatu yang menarik hatinya. Sehingga ke depannya saat menanamkan "peraturan", mereka sadar untuk apa & kepada siapa mereka taat.
2. Setelah itu baru menanamkan Adab. Saya lebih suka membahasakan anak-anak menukar kebebasannya untuk meraih kebebasan lain. Dengan tegaknya sebuah adab dalam hati mereka, banyak jalan ilmu yang terbuka. Ibarat aliran air, ilmu akan mengalir dari dataran tinggi ke dataran rendah. Maka penting menanamkan adab (terutama dalam berilmu) untuk memberi ruang sifat "rendah hati" terhadap ilmu.
3. Poin selanjutnya baru membicarakan Ilmu dan Amal yang dikemas dalam ilmu fiqih sebagai landasan pertama, sebelum ilmu-ilmu lainnya. Disini saya ingin memacu anak2 untuk terbiasa tau-paham-lakukan-sebarkan, agar pemahaman mereka bisa paripurna. 
Saatnya membiarkan mereka memilih ilmu dunia yang mereka senangi, maka peran saya hanya mengarahkan dan memotivasi. Mengingat anak2 adalah makhluk merdeka yang memiliki pemikiran cerdas, dan merupakan khalifah yang akan mempertanggung jawabkan apa yang dia pilih. (Pilih, nikmati, pertanggungjawabkan)
Adapun saya tetap dengan "ilmu dunia" pilihan saya yaitu Kesehatan dan Pengobatan, yang mengkombinasikan latar ilmu farmasi yang saya pernah pelajari dengan pengobatan cara rasul saw. Meski dalam pendalamannya melalui ceklis harian belum saya maksimalkan (berdasarkan penilaian pribadi baru sekitar 60%). 

Misi Hidup : Live and Move for Allah's Blesses
Bidang : Pendidikan ruhani & kesehatan
Peran : Pendidik & praktisi
Ilmu-ilmu yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup saya:
1. Thibbun Nabawi & Herbalis : Ilmu-ilmu seputar kesehatan & pengobatan berdasarkan sunnah rasul saw.
2. Kurikulum dan parenting Rasul saw : Ilmu-ilmu seputar pendidikan yang ditanamkan (sementara ini rujukan saya kurikulum Kutab)
Milestone untuk memandu setiap perjalanan menjalankan Misi Hidup

KM 0 – KM 1 ( tahun 1 ) : Menguasai Ilmu seputar Thibbun Nabawi & Herbalis
KM 1 – KM 2 (tahun 2 ) : Menguasai Ilmu seputar Kurikulum IIP
KM 2 – KM 3 (tahun 3 ) : Menguasai Ilmu seputar Parenting Rasulullah saw
KM 3 – KM 4 ( tahun 4) : Menguasai Ilmu seputar Kurikulum pendidikan Rasul saw

Kamis, 03 November 2016

Silmi/NHW#3 Matrikulasi Batch 2 IIP Bandung

Bismillahirrahmaanirrahiim.Beberapa tugas NHW#3 ini mungkin agak ber-"baper" ria mengingat empat poin ini cukup menuntut suara hati. Langsung saja ke tugasnya yaa:

1. Suara hati bertema "Untukmu Calon Imamku"

(Ditulis 9 Agustus 2016, diedit 4 November 2016)

Ada banyak kata yang ingin kusampaikan,
Assalamu'alaikum, calon imamku ^^
Sapaku hari ini, di Jumat yang penuh berkah.
Kelak saat kita saling memilih untuk memiliki, 
dan aku pun sanggup menyapamu dengan sebutan agung:
"hai suamiku, imamku.." 
Pahlawan yg meneruskan amanah abati.


Tolong, besarkan hatimu untuk menerima segala kekuranganku..
Jika seorang suami harus bersabar atas istrinya paling tidak 70kali dalam sehari, 
Maka aku bertekad lebih berbesar hati menerima kekuranganmu. 
InsyaAllah 

Aku mengerti..
Beratnya saat istri dan anak2 bahkan bisa menjadi fitnah untukmu.. 
Aku paham mengapa Rasul saw akan menyuruh istri sujud pada suami, jika manusia diperbolehkan sujud pada manusia. 
Tak selepas saat sendiri, tak sebebas melajang.. 
Aku paham, jiwamu menukar kebebasan.

Dan itu semua membuatku ingin berkata... 
Terimakasih telah menjadi bagian dalam hidupku.
Bagian dari mozaik cinta yang akan menyempurnakan agamaku, juga agamamu. 


Aku-dirimu tak sempurna..
Namun bagiku itu cukup.
Karena ketidak sempurnaan membuat kita saling menyempurnakan.
Hari ini saat kita masih terpisah ruang dan waktu,
Teruslah berusaha saling menyempurnakan diri..
Kelak kita akan bertemu, insyaAllah.
Dalam keagungan cinta yang terus bernafas dengan Ikhlas,
memeluk kesempurnaan skenario yg Allah cipta.
Pada skenarionya, ada ketidak-sederhanaan dalam kesederhanaan.. 
Dan senyum syukur selalu memberi gemerlap dalam gulita.

Jika akad telah terucap,
Arasy pun bergetar karna keagungannya.
Pengabdianku, kelak beralih padamu calon imamku. 
Maka pada saatnya izinkan aku mencintaimu. 
Bantu aku, taklukan egoku. 
Meraih bahagiamu, 
Menelisik hatimu, 
Menyimpan sebongkah cinta yang berharga. 


Tersenyumlah, Berbahagialah.. 
Ada visi yang kita kejar bersama dalam bahagia..
Ridla Allah dan Rasulullah saw.
Bahagiamu, insyaAllah cukup untuk membuatku tersenyum. 
Karena ridla Allah yang kucari..
Sehingga dengan ridlamu, Allah kan ridla. 

Calon Sahabat hidupku.. 
Pengabdian istri harus sepenuh jiwa dan raga, 
Aku paham.. 
Butuh telaga cinta untuk selalu mendampingimu.. 
Maka kucari telaga itu pada Rabb-ku dan Rabb-mu.
Aku harus mencintai, juga harus belajar. 
Belajar caramu belajar, caramu bicara, caramu menggerutu, caramu bersyukur. 
Dan aku memilih untuk terus belajar mencintaimu.. 

Karena Allah yang kita cinta, kelak meminta kita untuk saling mencinta.. Memberi makna, menuai arti, mencari ilmu, meraih jannah.. Bersama. 




2. Potensi diri 
Potensiku bukan milikku, ia milik Allah. Aku ingin ridho Allah menyertai hidupku, apapun jalannya insyaAllah. Jika hal2 yang kusuka bisa menjelaskan potensi.. aku suka bertukar pikiran ttg ilmu agama, suka lingkungan dakwah, dan suka Al Qur'an. Singkatnya suka berproses/belajar untuk meraih potensi. 


3. Kenapa aku di keluarga ini? 
Umi abi termasuk yg agamis, alhamdulillah. 
Senang mencontohkan yg baik daripada menasehati
Senang diskusi 
Diplomatis 
Jujur dan rendah hati 
Suka bersosialisasi 
Banyak unsur akhlaq yg dicontohkan 
*Semua ini membuatku ingin menjadi tombak peradaban dengan menjadi pendidik yang baik.



4. Lingkungan dan tantangan.. 
Tantanganku adalah untuk mengusahakan konsep "kaffah" dalam semua unsur kehidupan. 

Sabtu, 29 Oktober 2016

Silmi/NHW#2 Matrikulasi Batch 2 IIP Bandung

Bismillahirrahmanirrahiim.
Kali ini tugas NHW2 agak sulit untuk saya pribadi yang belum menikah. Namun setidaknya tugas ini memberikan gambaran lebih jauh lagi dalam menentukan tujuan keluarga yang akan dibangun. Secara keseluruhan saya memberi nama konsep keluarga ini sebagai keluarga yang "kaffah" terutama dalam hal menerapkan prinsip Islam dengan kecintaan yang tulus didalamnya. Tentunya sebuah target ada baiknya lebih spesifik, terukur, bisa diraih, realistik dan berjangka. Maka kali ini saya berusaha untuk memecah konsep "kaffah" yang masih bersifat general di benak saya.

Sebagai Individu, saya memiliki target yang cenderung untuk dijadikan "habit" dimana sukses atau tidaknya dilihat dari frekuensi per minggu (maksimal miss 3x).
1. Membiasakan bangun dua jam sebelum shubuh, dan melakukan rangkaian kegiatan "me-Rabb time".
2. Mentargetkan rampung hafalan 1 halaman baru setiap subuh.
3. Melengkapi sunnah Rawatib & Dhuha dalam sehari.
4. Melakukan olah raga (sambil melantunkan Al-Matsurat) setelah subuh sampai muncul matahari.
5. Berbenah diri dan rumah, serta menyiapkan sarapan maksimal jam 07.00 pagi.
6. Membiasakan shaum sunnah senin kamis.
7. Membiasakan sedekah dimanapun pada mustahiq, menyiapkan kencleng sebagai penampung jika dalam sehari tidak menemukan mustahiq.
8. Rutin tadarus+tadabbur tafsir Ibnu Katsir 1 Halaman setiap ba'da maghrib.
9. Mengisi waktu luang dengan buku bacaan Islam dan pengobatan.
10. Meluruskan niat disetiap aktivitas (dengan do'a), dawam wudhu & dzikir.

Sebagai Istri (belum), bagi saya ada target yang bersifat manajerial dan ada target yang bersifat penyempurnaan akhlaq.
1. Target Manajerial:
     a. Sebagai "Koki"
         -Menentukan jadwal menu: Senin & Kamis shaum (menu saur/buka menyesuaikan  
          keinginan suami/anak), Selasa & Jum'at menu sunnah (menyesuaikan pola menu
          makan rasulullah saw), Rabu menu "hijau", Sabtu & Minggu (menu kreasi bersama
          pasangan/anak).
         -Memperhatikan pola/jam makan suami & anak.
         -Menyiapkan bekal makan & minum jika perlu.
         -Memperhatikan nilai gizi makanan (berat dan ringan seperti buah).
      b. Sebagai Bendahara/ Pengelola Keuangan
         -Mengutamakan 2 pos utama yang sering terlupa sebelum terpakai: 10% sedekah,
          10-20% menabung.
         -Membagi pos kebutuhan menggunakan amplop yang terbagi untuk: Keperluan
          Rumah Tangga, Uang saku suami, Uang saku istri, Uang saku anak, Uang pendidikan
          (pendidikan formal untuk anak dan buku tambahan).
         -Menentukan skala prioritas penggunaan dana RT (pangan, papan, listrik,
          pulsa/kuota sebagai sumber informasi & komunikasi, kebersihan)
         -Menghindari "boros & sia2", selalu menggunakan nalar (bukan nafsu) saat membeli
          sesuatu.
       c. Sebagai "Pelayan"
          -Selalu memohon dipeliharakan cinta oleh Allah (manajerial cinta), dengan
           mengutamakan ridho Allah diatas apapun (juga dengan meraih ridho suami).
          -Menahan diri untuk keluar rumah selama bukan hal yang darurat.
          -Mengatur waktu sedemikian rupa agar semua pekerjaan RT selesai sebelum suami
           pulang dan menyiapkan waktu 15-20 menit untuk "menyambut" kedatangannya
           bersama dengan anak2 yang sudah rapi (membiasakan anak untuk ta'dzim sekaligus
           akrab pada ayahnya).
          -Tidak melepaskan perhatian lebih saat suami baru pulang dan baru bangun
           (menyiapkan hal yang dia sukai).
          -Mengatur kondisi hati terbaik/positif saat suami di rumah.
          -Mengatur waktu untuk menolong keuangan dengan kerja part time atau bisnis yang
           bisa dikerjakan). 
          -Pandai berdandan dan "mendandani" dengan belajar memotong/memangkas
           rambut.
2. Penyempurnaan Akhlaq
    Mengusahakan untuk istiqamah dengan sifat qanaah, taat, melindungi diri dari
    tangkapan pandangan serta pendengaran suami dengan berbuat yang tidak ia sukai
    (buruk), memperhatikan pola waktu makan & tidur suami (inisiatif), menjaga hubungan
    dengan keluarga suami, tidak melanggar/mempertanyakan perintah suami, memiliki
    wajah ceria, sedekah dengan izin suami, berbagi dengan tetangga (jalin
    silaturahmi), dan membiasakan kata "maaf" dan "terimakasih" (untuk menjamin ridho
    suami sebelum tidur).

Sebagai IBU, selain yang telah disebutkan di atas (pelayanan keluarga) yaitu sebagai pendidik. Saya menyusunnya dalam rangkaian tema per hari (Practice base) untuk mempermudah "focus point" sebagai berikut:

Minggu: Hari Kreativitas, dengan beragam crafting bermanfaat dan menghibur.
Senin  : Hari Bijak, dengan cerita2 teladan.
Selasa : Hari Santun/Akhlaq, dengan mendampingi anak berlatih bersilaturahmi.
Rabu   : Hari Pintar, dengan melatih unsur logika & pengetahuan.
Kamis  : Hari Internasional, dengan melatih penggunaan bahasa global (memudahkan
             dalam menggali ilmu yang lebih luas dan dalam)
Jum'at : Hari Qur'an, dengan melatih hikmah Qur'an serta unsur2 yang mempercantik 
             keberadaan Al-Qur'an (mengajarkan tahsin & tilawah misalnya).
Sabtu   : Hari Hobi, opsional untuk kegiatan pribadi masing2 atau bersama2 (kalau
             hobinya kebetulan sama).

Meski begitu bukan berarti tidak diajarkan di hari lain, hanya berbeda penekanan.Tema tersebut untuk memudahkan penekanan makna bagi orangtua dan anak sehingga mudah dipahami. Unsur ilmu wajib seperti fiqih dan tauhid tentunya harus ditanamkan setiap hari.

Saya paham apa yang saya tuliskan ini sangat membutuhkan keseriusan dan pertolongan Allah dalam pelaksanaannya. Setidaknya dengan tugas NHW#2 ini, saya menjadi sadar dan paham indikator habit dalam membentuk keluarga "kaffah" dan tentunya sakinah mawaddah. Semoga Allah menolong semua rencana dan target kita, baik yang sudah atau belum berkeluarga (seperti saya).
:)



Jumat, 21 Oktober 2016

Silmi/NHW#1 Matrikulasi Batch 2 IIP Bandung

Bagi seorang pelajar tentu ilmu dan segala perangkatnya menjadi hal terpenting dalam kesehariannya. Perangkat ilmu diantaranya guru, buku, alat tulis, artikel, "mbah google" dan tentunya teman seperguruan. Semua perangkat ilmu memiliki porsi tersendiri untuk diberikan penghargaan atas keterkaitannya dengan ilmu yang kita perjuangkan. Keutamaan ilmu sendiri, karena ia ibarat mahkota penghias bagi pemiliknya yang tentunya harus menghubungkan ikatan kemuliaan tersebut pada Sang Maha Berilmu. Maka dalam Islam terdapat beberapa adab berilmu yang kemudian diadaptasi dengan era globalisasi saat ini.

Pertama dan yang paling utama adalah unsur intrinsik diri kita sendiri, dimana kita sebagai pelajar harus menyiapkan ruang yang luas dalam "ruang penyimpanan" hati dan otak.

a. Ikhlas dan MAU
Membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk. Bagaimanapun informasi yang hendak kita dapatkan jika ia bernilai baik maka hati yang menerima juga harus baik. Karena hati yang baik akan mengundang ilmu dan pemahaman baru yang lebih baik ke dalam diri kita. Setiap ilmu yang bermanfaat ialah cahaya, yang menghapuskan kegelapan jiwa.

b. Bersegera dan Penuh Antusias
Kita perlu menyediakan waktu khusus dalam berilmu. Mengawali hal baik dengan sikap yang baik dengan datang di awal waktu dan duduk paling depan. Adab yang satu ini meningkatkan tingkat ketahanan kita saat mengalami hambatan dalam proses pencarian ilmu. Sehingga menunjukan sikap gigih di setiap majelis ilmu baik online maupun offline manjadi penting.

c.Mengosongkan "Gelas" yang Sudah Terisi
Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu
ilmu sedang disampaikan. Sikap ini salah satu bagian pembatas dalam otak kita. Sel-sel neuron dalam otak perlu membuat hubungan baru saat menerima informasi baru. Terkadang hubungan itu berangsur kendor bahkan lepas satu sama lain. Saat merasa bisa, hubungan yang dibentuk oleh sel-sel ini akan terhambat. Terkadang seseorang yang justru banyak menerima ilmu, akan merasa jauh lebih membutuhkan ilmu. Ibarat orang yang penuh dengan rasa haus namun tidak memiliki air.

d.Tau>Paham>Lakukan>Biasakan>Ajarkan
Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang,
membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua
runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama. Karena ilmu yang kita terima tidak akan mencapai 100% jika masih ada tahap yang belum tercapai.

e. Sungguh-sungguh dalam Berlatih Memanfaatkan Tugas
Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu
disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar
mudah untuk diamalkan.

ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)
a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati,
menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha
Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.

b. Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau
menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan
memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru
berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru
mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu
mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.

c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang
disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta
ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh
disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan
kita.

Dari apa yang saya pelajari di kelas Matrikulasi IIP #2 kali ini, pembelajaran adalah proses berantai yang membutuhkan rangkaian rantai yang kokoh. Siapa yang menyampaikan, bagaimana isinya, dan bagaimana menimbulkan kesan pada penerima informasi menjadi unsur yang penting untuk berada dalam jangkauan pertanggung jawaban kita.

Ilmu yang menjadi spesifikasi saya kelak untuk diperdalam ialah pendidikan keluarga yang berusaha untuk kaffah dalam islam, termasuk dalam penerapan unsur kesehatan. Karena setiap ilmu yang kita pelajari akan dimintai pertanggungjawaban. Waktu, Ilmu dan Fisik yang sehat menjadi bagian dari unsur kekokohan keluarga muslim yang memperhatikan amanah diri sebagai "khalifah" di atas bumi.