1. Suara hati bertema "Untukmu Calon Imamku"
(Ditulis 9 Agustus 2016, diedit 4 November 2016)
Ada banyak kata yang ingin kusampaikan,
Assalamu'alaikum, calon imamku ^^
Sapaku hari ini, di Jumat yang penuh berkah.
Kelak saat kita saling memilih untuk memiliki,
dan aku pun sanggup menyapamu dengan sebutan agung:
"hai suamiku, imamku.."
Pahlawan yg meneruskan amanah abati.
Tolong, besarkan hatimu untuk menerima segala kekuranganku..
Jika seorang suami harus bersabar atas istrinya paling tidak 70kali dalam sehari,
Maka aku bertekad lebih berbesar hati menerima kekuranganmu.
InsyaAllah
Aku mengerti..
Beratnya saat istri dan anak2 bahkan bisa menjadi fitnah untukmu..
Aku paham mengapa Rasul saw akan menyuruh istri sujud pada suami, jika manusia diperbolehkan sujud pada manusia.
Tak selepas saat sendiri, tak sebebas melajang..
Aku paham, jiwamu menukar kebebasan.
Dan itu semua membuatku ingin berkata...
Terimakasih telah menjadi bagian dalam hidupku.
Bagian dari mozaik cinta yang akan menyempurnakan agamaku, juga agamamu.
Aku-dirimu tak sempurna..
Namun bagiku itu cukup.
Karena ketidak sempurnaan membuat kita saling menyempurnakan.
Hari ini saat kita masih terpisah ruang dan waktu,
Teruslah berusaha saling menyempurnakan diri..
Kelak kita akan bertemu, insyaAllah.
Dalam keagungan cinta yang terus bernafas dengan Ikhlas,
memeluk kesempurnaan skenario yg Allah cipta.
Pada skenarionya, ada ketidak-sederhanaan dalam kesederhanaan..
Dan senyum syukur selalu memberi gemerlap dalam gulita.
Jika akad telah terucap,
Arasy pun bergetar karna keagungannya.
Pengabdianku, kelak beralih padamu calon imamku.
Maka pada saatnya izinkan aku mencintaimu.
Bantu aku, taklukan egoku.
Meraih bahagiamu,
Menelisik hatimu,
Menyimpan sebongkah cinta yang berharga.
Tersenyumlah, Berbahagialah..
Ada visi yang kita kejar bersama dalam bahagia..
Ridla Allah dan Rasulullah saw.
Bahagiamu, insyaAllah cukup untuk membuatku tersenyum.
Karena ridla Allah yang kucari..
Sehingga dengan ridlamu, Allah kan ridla.
Calon Sahabat hidupku..
Pengabdian istri harus sepenuh jiwa dan raga,
Aku paham..
Butuh telaga cinta untuk selalu mendampingimu..
Maka kucari telaga itu pada Rabb-ku dan Rabb-mu.
Aku harus mencintai, juga harus belajar.
Belajar caramu belajar, caramu bicara, caramu menggerutu, caramu bersyukur.
Dan aku memilih untuk terus belajar mencintaimu..
Karena Allah yang kita cinta, kelak meminta kita untuk saling mencinta.. Memberi makna, menuai arti, mencari ilmu, meraih jannah.. Bersama.
2. Potensi diri
Potensiku bukan milikku, ia milik Allah. Aku ingin ridho Allah menyertai hidupku, apapun jalannya insyaAllah. Jika hal2 yang kusuka bisa menjelaskan potensi.. aku suka bertukar pikiran ttg ilmu agama, suka lingkungan dakwah, dan suka Al Qur'an. Singkatnya suka berproses/belajar untuk meraih potensi.
3. Kenapa aku di keluarga ini?
Umi abi termasuk yg agamis, alhamdulillah.
Senang mencontohkan yg baik daripada menasehati
Senang diskusi
Diplomatis
Jujur dan rendah hati
Suka bersosialisasi
Banyak unsur akhlaq yg dicontohkan
*Semua ini membuatku ingin menjadi tombak peradaban dengan menjadi pendidik yang baik.
4. Lingkungan dan tantangan..
Tantanganku adalah untuk mengusahakan konsep "kaffah" dalam semua unsur kehidupan.
Tantanganku adalah untuk mengusahakan konsep "kaffah" dalam semua unsur kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar